Pada awalnya, mendengar kata selingkuh saja aku sudah risih.
Terhadap beberapa rekan kerja yang terlibat cinta rahasia itu pun aku sebal dan
tidak respek. Sepertinya tidak punya malu dan tidak takut berdosa.
Seorang teman yang gemar berselingkuh pernah mengatakan
kepadaku bahwa perkawinan tak akan dewasa tanpa perselingkuhan. Ah kurang ajar,
makiku dalam hati ketika itu.
Selingkuh itu selingan indah keluarga utuh, ujarnya dan
kalimat itu kini mendengung di telingaku, saat aku tak menyangka, bisa terkena
virus itu juga. Tak tahu bagaimana, aku terserang virus selingkuh! Seperti
virus influenza yang bisa menyerang siapa saja yang turun daya tahan tubuhnya.
Itulah yang terjadi padaku. Apakah ini pertanda turunnya daya tahan
perkawinanku? Keseharianku selalu dipenuhi jadwal yang ketat.
Didampingi seorang pembantu, aku melaksanakan tugas rumah
tangga seperti menyediakan sarapan, menyiapkan keperluan suami—jika sedang ada
di rumah, dan anak-anak. Mengantar anak-anak ke sekolah, menemani belajar, juga
membacakan cerita menjelang tidur. Serta berbagai urusan rumah tangga lainnya
seperti membayar telepon, listrik, tagihan bank, belanja, dan aneka keperluan
rutin lain. Ini berlangsung tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, sampai lima
tahun usia pernikahan kami. Saat itulah aku mulai berada di titik bosan dan
jenuh karena rutinitas yang itu-itu juga.
No comments:
Post a Comment