Sunday, 18 September 2011

SeLiNgKuH,,aPe ItU??


Pada awalnya, mendengar kata selingkuh saja aku sudah risih. Terhadap beberapa rekan kerja yang terlibat cinta rahasia itu pun aku sebal dan tidak respek. Sepertinya tidak punya malu dan tidak takut berdosa.

Seorang teman yang gemar berselingkuh pernah mengatakan kepadaku bahwa perkawinan tak akan dewasa tanpa perselingkuhan. Ah kurang ajar, makiku dalam hati ketika itu.

Selingkuh itu selingan indah keluarga utuh, ujarnya dan kalimat itu kini mendengung di telingaku, saat aku tak menyangka, bisa terkena virus itu juga. Tak tahu bagaimana, aku terserang virus selingkuh! Seperti virus influenza yang bisa menyerang siapa saja yang turun daya tahan tubuhnya. Itulah yang terjadi padaku. Apakah ini pertanda turunnya daya tahan perkawinanku? Keseharianku selalu dipenuhi jadwal yang ketat.

Didampingi seorang pembantu, aku melaksanakan tugas rumah tangga seperti menyediakan sarapan, menyiapkan keperluan suami—jika sedang ada di rumah, dan anak-anak. Mengantar anak-anak ke sekolah, menemani belajar, juga membacakan cerita menjelang tidur. Serta berbagai urusan rumah tangga lainnya seperti membayar telepon, listrik, tagihan bank, belanja, dan aneka keperluan rutin lain. Ini berlangsung tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, sampai lima tahun usia pernikahan kami. Saat itulah aku mulai berada di titik bosan dan jenuh karena rutinitas yang itu-itu juga.

Sabtu dan Minggu barulah dikatakan sebagai hari yang menyenangkan untukku dan keluarga. Kami biasanya rekreasi ke luar kota. Ke pantai, ke daerah pegunungan yang sejuk, makan di restoran, atau belanja. Belakangan, seiring promosi karirnya, suamiku semakin sibuk. Tidak jelas lagi beda antara weekday dan weekend. Alhasil, akhir pekan kunikmati hanya bersama anak-anak saja. Kebersamaan kami dikorbankan... <3 <3

No comments:

Post a Comment